International newsWorld

Xi Akan Tetap Temui Putin Meski Langgar Mahkamah International

Xi dan Putin Akan Bahas Ukraina Dalam Pertemuan

Kabari99-Presiden China Xi Jinping memastikan akan tetap menemui Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskwa, Rusia. Selain perdagangan bilateral dan isu global, Ukraina juga akan menjadi bahasan pertemuan kedua pemimpin itu.

Xi memastikan lawatan ke Moskwa lewat artikel yang diterbitkan Ria Novosti dan Russian Gazette edisi Senin (20/3/2023). Artikel Putin soal lawatan Xi juga diterbitkan media China, People Daily, Senin ini. Waktu penerbitan bersamaan dengan permulaan lawatan Xi ke Moskwa. Seperti diumumkan Kementerian Luar Negeri China, Xi bertandang ke Rusia pada Senin-Rabu ini.

Kementerian Luar Negeri China mengumumkan lawatan itu sebelum Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Putin. Dalam pengumuman pada Jumat, ICC menuding Putin bertanggung jawab atas migrasi paksa anak-anak dari wilayah Ukraina yang diduduki Rusia.

Baca juga: Mengaku Tampung ART, Seorang Mucikari PSK Sewa Indekos

Meski Putin sudah berstatus buronan internasional, Xi tetap menemuinya di Moskwa. Pertemuan itu, antara lain, membahas isu Ukraina.

China, Rusia, dan Ukraina sama-sama tidak mengakui ICC. Parlemen tiga negara itu tidak meratifikasi Statuta Roma yang menjadi dasar pembentukan ICC. Meski demikian, Kejaksaan Agung Ukraina mengaku bekerja sama dengan penyidik ICC untuk mengumpulkan bukti dugaan kejahatan perang Rusia di Ukraina.

Xi menyebut, China berusaha berkontribusi untuk menyelesaikan isu Ukraina. China mempertahankan posisi tidak berpihak dan mendorong perundingan damai. ”Tidak ada solusi mudah atas masalah yang rumit,” tulis Xi.

Solusi akan bisa ditemukan jika para pihak punya pandangan sama dan rasional serta berorientasi pada dialog. Perlu pula memastikan pihak terkait dan berkepentingan mau mencari berbagai alternatif solusi untuk perdamaian berkelanjutan dan keamanan bersama.

”Kami selalu percaya, dialog politik satu-satunya cara menyelesaikan konflik dan sengketa. Tindakan seperti mengompori, menerapkan sanksi sepihak, tekanan maksimum hanya akan memperburuk keadaan dan meningkatkan ketegangan,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin sebagaimana dikutip Xinhua dan Global Times.

Dalam artikelnya, Putin berterima kasih atas keberimbangan sikap China pada isu Ukraina. Beijing mau memahami latar belakang masalah. ”Kami menyambut niat China berperan konstruktif dalam menyelesaikan krisis,” tulisnya.Kami selalu percaya, dialog politik satu-satunya cara menyelesaikan konflik dan sengketa. Tindakan seperti mengompori, menerapkan sanksi sepihak, tekanan maksimum hanya akan memperburuk keadaan dan meningkatkan ketegangan.

Menurut Putin, Rusia siap berdialog soal Ukraina. ”Sayangnya, pada April 2022, perundingan damai tidak dihentikan oleh kami. Masa depan perdamaian bergantung pada kesiapan berdialog serius, mempertimbangkan realitas geopolitik. Sayangnya, ultimatum kepada Rusia hanya menjauhkan dari upaya menemukan jalan keluar,” tulis Putin.

Putin Bersikeras Krisis Ukraina Terjadi Karna Provokasi Barat

Ia berkeras, krisis di Ukraina terjadi karena provokasi Barat demi mempertahankan tatanan global dengan kutub tunggal. Bukan hanya di Eropa, pola serupa sedang berusaha didorong di Asia Pasifik. Blok-blok dan aliansi militer dibuat untuk mengucilkan sebagian negara.

Semakin dekat Xi dan Wang menyebut, lawatan akan fokus pada berbagai isu. ”Lawatan mendatang ke Rusia akan menjadi perjalanan persahabatan, kerja sama, dan kedamaian. Saya tidak sabar bekerja sama dengan Presiden Putin untuk visi baru, rancangan baru, dan ukuran baru pertumbuhan kemitraan strategis komprehensif China-Rusia,” tulis Xi.

Putin dan Xi secara resmi pertama kali bertemu di Moskwa pada 2010. Sebagai Wakil Presiden China, Xi memimpin delegasi China menyambangi Rusia. Selanjutnya sebagai presiden, Xi bertandang paling tidak delapan kali ke Rusia. Dalam 10 tahun terakhir, Putin-Xi telah bersua 40 kali di berbagai forum bilateral dan multilateral.

”Interaksi tingkat tinggi berperan strategis dalam hubungan China-Rusia. Kami telah membuat mekanisme untuk interaksi tingkat tinggi dan beragam kerja sama yang menyediakan perlindungan kelembagaan dan sistematis untuk pengembangan hubungan bilateral,” tulis Xi.

Ia menegaskan, China-Rusia berkomitmen pada visi yang menjauhkan konfrontasi, menyasar pihak lain, dan tidak bertujuan membangun blok. Beijing-Moskwa teguh menjaga sistem internasional yang berpusat pada Perserikatan Bangsa-Bangsa, tatanan global yang berbasis hukum internasional, dan norma internasional yang berdasarkan prinsip dalam piagam PBB. ”Kami bekerja sama demi dunia multikutub dan demokrasi di hubungan internasional,” tulis Xi.

Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) menerima Presiden China Xi Jinping di St Petersburg, Rusia, pada Juni 2019 Mulai Senin (20/3/2023) sampai Rabu, Xi kembali berkunjung ke Rusia.

Putin malah mengklaim, hubungan Rusia-China menjadi sumbu kestabilan global dan kawasan. Hubungan itu juga mendorong pertumbuhan ekonomi serta menjadi penjamin berbagai agenda di panggung internasional. ”Hubungan ini contoh keharmonisan di antara kekuatan utama,” tulisnya.

Tidak ada pemimpin dan pengikut, tidak ada pembatasan bahasan. Dialog kami sangat saling percaya, hubungan strategis sangat komprehensif dan memasuki era baru.

Harapan pada pertemuan di Moskwa amat tinggi. Akan ada dampak sangat besar bagi hubungan Rusia-China dari pertemuan itu. Hubungan Beijing-Moskwa saat ini lebih bagus dibandingkan di era Perang Dingin.

”Tidak ada pemimpin dan pengikut, tidak ada pembatasan bahasan. Dialog kami sangat saling percaya, hubungan strategis sangat komprehensif dan memasuki era baru,” kata Putin melanjutkan.

Wang menyebut, hubungan China-Rusia penting dalam tatanan global yang berubah. Hubungan keduanya melebihi soal bilateral. ”Lawatan Presiden China akan menjadi perjalanan untuk perdamaian,” ujarnya.

 

Kabari99-Auliya-Yogyakarta

last post

Back to top button