
Kabari99-Seorang mantan politisi Sudan yang dicari karena tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan mengatakan bahwa dia dan mantan pejabat lainnya tidak lagi dipenjara – menyusul laporan tentang pelarian.
Ahmed Haroun juga adalah di antara mereka yang ditahan di penjara Kober di ibu kota Khartoum yang hadapi dakwaan dari Pengadilan Kriminal Internasional (ICC).
Gencatan senjata antara militer yang berperang sebagian besar tampaknya akan dipertahankan.
Tapi ada keraguan tentang kedua belah pihak untuk perdamaian abadi.
Konflik – yang dimulai pada 15 April – muncul dari perebutan kekuasaan yang sengit antara para tentara reguler Sudan dan para militer saingan.
Baca Juga : Pria Ini Batalkan Pernikahan Usai Lihat Tiket Kereta Pasangan! Ini Alasannya
Laporan muncul!
awal pekan ini penjara di Kober – di mana Ahmed Haroun menjalani hukuman bersama Omar al-Bashir, mantan presiden Sudan.
Pada hari Selasa, Haroun dalam sebuah pernyataan yang ditayangkan di Tayba TV Sudan bahwa dia dan mantan pejabat lainnya
yang bertugas di bawah Bashir telah di penjara dan dia akan siap menghadap pengadilan kapan pun itu
Dalam pesan audio yang beredar di media sosial,
Harun mengaku dirinya dan mantan pejabat lainnya keluar dengan bantuan sipir dan para aparat
“Kami membuat keputusan untuk melindungi diri kami sendiri karena kurangnya, air, makanan, serta banyak tahanan di Kober,” kata Haroun , di sebuah surat kabar harian di Sudan yang diketahui memiliki hubungan dengan Bashir.
Bashir digulingkan oleh militer setelah protes massal pada 2019 dan menjalani hukuman penjara karena korupsi.
Tentara Sudan juga bilang pria berusia 79 tahun itu saat ini berada di rumah sakit militer dalam tahanan polisi, dan dipindahkan ke sana sebelum permusuhan pecah.
Bashir dituduh oleh ICC memimpin kampanye pembunuhan massal di wilayah Darfur Sudan, yang dia bantah.
Sementara itu Haroun menghadapi 20 dakwaan dan 22 dakwaan kejahatan perang di wilayah Darfur antara tahun 2003 dan 2004 ketika dia sebagai menteri dalam negeri.
Haroun juga membantah tuduhan ICC, pada 2007. Dia ditangkap pada tahun 2019 di Bashir.
Sejak itu, negara sering mengalami kerusuhan dan ada juga upaya kudeta lainnya.
Gencatan senjata
Negara juga evakuasi warga ke luar negeri. Penerbangan kedua yang mana adalah warga negara Inggris dari Sudan telah sampai di Siprus, dan juga sebuah kapal yang lebih dari 1.600 orang dari puluhan negara kini telah tiba di Arab Saudi.
Baca Juga : Astronaut Muslim Uni Emirat Arab
Volker Perthes, adalah utusan khusus PBB untuk Sudan dan saat ini berada di negara itu,
bahwa jeda 72 jam masih diamati di bagian negara itu,
Namun tembakan dan ledakan terjadi di Khartoum dan kota Omdurman.
“Belum ada tanda tegas bahwa salah satu [pihak] siap untuk bernegosiasi secara serius,
yang menunjukkan bahwa mengamankan kemenangan militer atas pihak lain adalah mungkin,” kata Perthes.
Gencatan senjata, yang dimulai pada tengah malam waktu (22:00 GMT) pada hari Senin yang lalu,
adalah upaya terbaru untuk membawa stabilitas negara setelah pertempuran pecah antara tentara dan Pasukan Pendukung Cepat (RSF) hampir dua minggu lalu.
Sedikitnya 459 orang tewas dalam konflik ini sejauh ini, meski jumlah jauh lebih tinggi.
Ribuan lainnya telah pergi dari Sudan dan PBB telah memperingatkan bahwa hal ini akan terus terjadi,
dengan sekitar 24.000 ibu hamil saat ini berada di Khartoum yang akan melahirkan dalam minggu depan.
Mr Perthes juga bilang bahwa banyak rumah sakit, dan umum lainnya telah rusak atau hancur di daerah dekat markas tentara dan bandara di Khartoum.
Kabari99-Diwani-Yogyakarta