Health

TRANSABLE: Orang yang Memilih untuk Menjadi Disabilitas

Orang Transable Melukai Diri untuk Menjadi Disabilitas

Kabari99-Terdapat sebagian orang di dunia ini yang menjadi disabilitas karena pilihannya sendiri. Orang orang tersebut disebut dengan “transabled”, mereka memiliki keinginan yang luar biasa untuk menjadi seorang disabilitas.

Dikenal sebagai Body Integrity Dysphoria, BIID, atau BID, orang orang dengan gangguan ini sering melukai diri mereka sendiri sebagai upaya untuk menjadi disabilitas, karena mereka mengaku merasa tidak hidup dalam tubuh yang mereka inginkan.

Mereka terdorong untuk merasakan bagaimana rasanya lumpuh, buta atau kehilangan anggota tubuh. Bagi mereka, kehidupannya tidaklah memuaskan dan mereka lebih suka untuk menjadi disabilitas.

Baca juga: Argentina Hadapi Sang Juara Bertahan Prancis

Kasus Transable

Dilansir dari pulptastic.com, salah seorang transabled, seorang pria yang dikenal sebagai Jason, menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk meneliti cara untuk melepaskan lengannya dan mempelajari pertolongan pertama untuk mencegah dirinya dari pendarahan sampai mati. Bahkan ia mempraktekan hal tersebut terlebih dahulu ke hewan yang ia beli sebelumnya.

Jason kemudian dengan sengaja menjatuhkan balok beton ke kakinya sebagai upaya untuk melukai dirinya sendiri dan diamputasi. kemudian, dokter menyelamatkan kakinya, membiarkannya terdiam lemas,dan ia merasa buka hal tersebut yang ia inginkan.

Alexandre Baril, seorang akademisi Quebec yang memberi kuliah tentang transabilitas, menjelaskan mengenai alasan seseorang melakukan transable “Orang itu bisa ingin menjadi tuli, buta, diamputasi, lumpuh. Ini adalah keinginan yang sangat, sangat kuat.” Ujarnya.

Kondisi ini dapat mengancam jiwa, karena banyak yang  mengatur sebuah “kecelakaan”untuk menjadi transable. Dalam mencapai keinginanya untuk menjadi transable terkadang mereka seringkali hampir bunuh diri.

Baca juga: Pertukaran Tahanan, Rusia Bebaskan 64 Tentara Ukraina

Hubungan komunitas transabled dan transgender

Banyak dari orang orang transable yang merasa sama dengan transgender. Mereka merasa tidak berada didalam tubuh yang tepat. Para transable mengangggap meraka harus diperlakukan sama dengan para transgender.

Namun, sayangnya, para komunitas transabled kerap ditolak oleh komunitas difabel yang merasa sumber daya berharga yang dimiliki difabel dicuri bahkan mereka mereka menganggap para transable terlalu meromantisasi disabilitas.

Hal ini menyebabkan banyak orang transablememilih untuk merahasiakan identitasnnya. Seperti seorang pria berusia 78 yang namnya dirahasiakan mengungkapkan bahwa ia telah hidup dengan rahasia itu selama lebih dari 60 tahun dan tidak pernah memberi tahu istrinya.

Ada berbagai alasan mengapa orang memilih untuk menjadi transable. Beberapa orang merasa seolah-olah mereka dilahirkan ke dalam tubuh yang salah dan bahwa kehidupan normalnya seharusnya tidak pernah terjadi. Bagi sebagian orang, ini adalah fetish seksual, dan bagi yang lain  karena mereka merasa lebih nyaman berada di kursi roda meskipun tubuhnya baik baik saja.

Orang-orang yang bukan difabel seringkali mengalami kesulitan memahami orang yang memilih menjadi transable. Bisa dengan sangat mudah mengutuknya karna dianggap sebagai tindakan pencarian perhatian atau untuk melarikan diri dari kenyataan. Namun, perlu disadari bahwa orang orang transable sama dengan disabilitas lainnya yang memerlukan bantuan profesional.

Apakah menjadi transable merupakan penyakit mental?

Dokter yang pertama kali mendengar pasien dengan kondisi transable kerap bingung untuk menghadapinya. Setelah melakukan konsultasi, Orang-orang transable ini sering terdorong untuk melakukan hal yang lebih parah lagi ketika dokter menyatakan bahwa mereka baik baik saja lebih jauh ke dalam kecacatan mereka oleh dokter yang memberi tahu mereka bahwa tidak ada yang salah dengan mereka. Hal ini dapat mempeburuk keadaan dan mengakibatkan orang orang tersebut berakhir dengan bunuh diri.

 

Kabari99-Yogyakarta

last post

Back to top button