BusinessEconomy

Kiamat Pabrik Garmen, Permintaan Ekspor Rendah Jadi Alasan?

Kabari99-Pabrik pabrik garmen di Indonesia banyak yang tutup dan para pemilik menjualnya melalui marketplace properti. Tidak hanya itu, mesin-mesin diobral hingga keluar negeri seperti India dan Bangladesh.

Industri tekstil memang sedang terpukul di awal tahun 2023 ini. Salah satu penyebab utama tutupnya banyak pabrik garmen adalah lemahnya permintaan ekspor. Ekonomi dunia sedang tidak baik-baik saja yang menyebabkan daya beli menurun.

 

 

“Potensi ekspor melemahnya sesaat harusnya. Ini lebih ke arah komitmen holistik regulasi,” ungkap Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Anne Patricia mengutip dari CNBC Indonesia, Jumat (3/2/23).

Melihat dari Pasar ekspor produk tekstil Indonesia memang tidak terlalu besar. Perbandingan dengan pasar domestik 30:70. Meskipun angkanya kecil tetap saja berpengaruh terhadap para pelaku industri.

Baca juga: Protes Pembangunan Masjid, Warga Korea Adakan Pesta Babi

Belum lagi dalam pasar domestik juga lagi macet. Penyebabnya banyaknya produk tekstil impor. Produk tekstil lokal tak mampu bersaing.

“Karena sejujurnya trust kita ke domestic market kurang, karena domestik kadang-kadang banjir impor banyak, jadi gak stabil,” timpal Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSYFI) Redma Gita Wirawasta.

Dampak dari  permintaan ekspor yang melemah ditambah serbuan barang impor ke pasar lokal bikin produk tekstil Indonesia terjepit. Para pelaku usaha tidak bisa lagi bergerak bebas untuk melakukan ekspansi ataupun meningkatkan penjualan.

Sekarang, yang terjadi adalah beban perusahaan meningkat. Cara terakhir dipakai seperti menutup atau menjual pabrik dan melakukan PHK massal.

Baca juga: Akhirnya! Mie Gacoan Sudah Punya Sertifikat Halal

“Industri kuncinya market. Industri TPT Indonesia sebenarnya orientasi local market jauh lebih besar dari ekspor. Ekspor hanya di kisaran 30%, lokal 70%. Negara produsen TPT dunia juga melirik market TPT Indonesia yang begitu besar. Sebabnya bermacam-macam, utilisasi rendah, tidak bisa bersaing, akhirnya merugi, dan berujung ada yang tidak bisa bayar ke bank,” jelasnya.

 

Kabari99-Aliya-Yogyakarta

last post

Back to top button